HIGH FIVE
(Edukasi seputar Gaslighting bagi Perempuan Muda)
(Edukasi seputar Gaslighting bagi Perempuan Muda)
Hubungan pacaran pada masa dewasa muda merupakan salah satu bentuk relasi interpersonal yang berperan penting dalam perkembangan psikologis dan sosial individu. Namun, di balik fungsi positif tersebut, hubungan pacaran juga dapat menjadi ruang terjadinya berbagai bentuk kekerasan yang berdampak serius terhadap kesehatan mental dan kesejahteraan individu. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa sekitar 1 dari 3 perempuan di dunia pernah mengalami kekerasan fisik, seksual, atau psikologis dari pasangan intim sepanjang hidupnya (WHO, 2024). Fenomena ini menunjukkan bahwa kekerasan dalam hubungan bukan merupakan kasus yang terisolasi, melainkan masalah kesehatan masyarakat yang terjadi secara global.
Di Indonesia, kekerasan dalam hubungan juga masih menjadi permasalahan yang memerlukan perhatian serius. Data Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (SIMFONI PPA) Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak menunjukkan bahwa sepanjang tahun 2024 tercatat puluhan ribu kasus kekerasan terhadap perempuan, dengan kekerasan psikis menjadi salah satu bentuk kekerasan yang paling sering dilaporkan setelah kekerasan fisik. Sementara itu, Catatan Tahunan Komnas Perempuan menunjukkan bahwa kekerasan dalam relasi personal, termasuk hubungan pacaran, masih menempati proporsi yang signifikan dalam kasus kekerasan berbasis gender yang dilaporkan setiap tahunnya (Komnas Perempuan, 2024).
Meskipun kekerasan fisik relatif lebih mudah dikenali karena meninggalkan luka yang terlihat, kekerasan psikis sering kali berlangsung secara tersembunyi dan sulit diidentifikasi oleh korban maupun lingkungan sekitar. Salah satu bentuk kekerasan psikis yang banyak terjadi dalam hubungan adalah gaslighting. Gaslighting merupakan bentuk manipulasi psikologis yang dilakukan secara berulang untuk membuat seseorang meragukan ingatan, persepsi, penilaian, maupun realitas yang dialaminya sendiri (American Psychological Association, 2024). Pelaku biasanya menyangkal fakta, memutarbalikkan kejadian, menyalahkan korban, atau membuat korban merasa terlalu sensitif sehingga korban mulai kehilangan kepercayaan terhadap dirinya sendiri.
Fenomena gaslighting menjadi semakin relevan di kalangan pemuda karena fase dewasa muda merupakan periode pembentukan identitas, kemandirian emosional, serta pengembangan hubungan romantis yang lebih serius. Namun, kurangnya edukasi mengenai bentuk-bentuk kekerasan psikis menyebabkan banyak pemuda tidak menyadari bahwa perilaku manipulatif seperti mengontrol pasangan secara berlebihan, menyalahkan korban, membuat pasangan merasa bersalah secara terus-menerus, atau meremehkan perasaan pasangan merupakan bentuk kekerasan. Akibatnya, korban seringkali bertahan dalam hubungan yang tidak sehat karena menganggap perilaku tersebut sebagai bentuk perhatian, cinta, atau kepedulian pasangan.
Dampak gaslighting tidak hanya mempengaruhi kondisi emosional korban dalam jangka pendek, tetapi juga dapat menimbulkan konsekuensi psikologis yang serius seperti kecemasan, depresi, kehilangan rasa percaya diri, kesulitan mengambil keputusan, trauma psikologis, hingga munculnya pikiran untuk menyakiti diri sendiri. Dalam beberapa kasus, kekerasan psikis yang berlangsung dalam waktu lama dapat menyebabkan gangguan kesehatan mental yang memerlukan penanganan profesional. Oleh karena itu, peningkatan kesadaran dan pemahaman mengenai gaslighting menjadi langkah penting dalam upaya pencegahan kekerasan psikis pada hubungan pacaran di kalangan pemuda.
Sebagai bentuk kontribusi edukatif, kami menyusun buku saku berjudul "Gaslighting: Bukan Cinta Kalau Membuatmu Meragukan Diri Sendiri" yang diharapkan dapat menjadi media informasi yang mudah dipahami, praktis, dan relevan dengan pengalaman kehidupan perempuan saat ini. Melalui buku saku ini, pembaca diharapkan mampu mengenali tanda-tanda gaslighting, memahami dampaknya, serta mengetahui langkah yang dapat dilakukan apabila mengalami atau menemukan kasus serupa di lingkungan sekitarnya.
Logo High Five melambangkan kebersamaan, kekompakan, dan kolaborasi. Empat anggota diibaratkan sebagai empat jari, sedangkan ibu jari melambangkan tujuan bersama, komitmen, dan semangat kolaborasi yang menyatukan tim. Tangan yang bertemu menunjukkan bahwa setiap anggota saling melengkapi dan mendukung. Lingkaran melambangkan kesatuan, sedangkan hati menggambarkan kepedulian dan kebersamaan. High Five bukan sekadar jumlah, tetapi tentang menjadi satu tim yang solid.
Booklet Mengenali Gaslighting dalam Hubungan untuk Perempuan
Gaslighting: Bukan Cinta Kalau Membuatmu Meragukan Diri Sendiri
Cari Tahu Lebih Banyak Seputar Gaslighting dan Untuk Kesejahteraan Perempuan
Yuk unduh dan bagikan booklet ini ke seluruh perempuan di sekitarmu!