Panti Asuhan Kasih Agape merupakan lembaga sosial yang menjalankan fungsi pengasuhan, pendampingan, pembentukan karakter, dan pemberian dukungan emosional kepada anak dengan rentang usia serta latar belakang keluarga yang beragam. Keberagaman tersebut menghadirkan kebutuhan emosional, sosial, dan perilaku yang berbeda sehingga pengasuh perlu memahami karakteristik setiap anak dan menyesuaikan respons pengasuhan secara tepat. Kapasitas pengasuh menjadi salah satu bagian penting dalam menciptakan lingkungan pengasuhan yang mendukung perkembangan dan kesejahteraan anak. Penelitian menunjukkan bahwa 61,13% anak panti mengalami masalah perilaku, dengan kualitas pengasuh sebagai salah satu prediktor penting (El Koumi et al., 2012). Sebaliknya, kualitas pola asuh yang lebih baik berkaitan dengan tingkat kecemasan yang lebih rendah pada anak panti asuhan (Kusumawardhani & Wijayanti, 2012). Temuan tersebut memperlihatkan bahwa kualitas interaksi dan respons pengasuh memiliki peran penting dalam mendukung pengalaman tumbuh kembang anak di lingkungan panti.
Pemenuhan kebutuhan anak berlangsung bersamaan dengan berbagai tanggung jawab yang dijalankan oleh pengasuh. Pengasuh di Panti Asuhan Kasih Agape tidak hanya mendampingi anak, tetapi juga terlibat dalam pendampingan belajar, pekerjaan rumah tangga, administrasi panti, perkuliahan, dan pekerjaan. Berbagai tanggung jawab tersebut menuntut pengasuh untuk membagi waktu, tenaga, dan perhatian secara berkelanjutan. Kondisi Role Overload dan Stress ditemukan pada 100% pengasuh, terutama berkaitan dengan tekanan dan kelelahan dalam menjalankan berbagai tanggung jawab sehari-hari. Temuan tersebut sejalan dengan Rocha and Arcinas (2020) yang menemukan bahwa peningkatan role overload berkaitan dengan penurunan kualitas hidup.
Tuntutan berbagai peran tersebut juga berkaitan dengan cara pengasuh menghadapi persoalan dalam keseharian. Limited Coping Repertoire ditemukan pada 77,8% pengasuh yang tercermin melalui penggunaan strategi koping yang masih terbatas ketika menghadapi tekanan dan persoalan pengasuhan. Pada sisi lain, dukungan sosial menjadi salah satu sumber yang digunakan pengasuh. Sebanyak 66,7% pengasuh berbagi pengalaman dengan sesama pengasuh maupun alumni yang memiliki latar belakang serupa. Kesamaan latar belakang dapat mempengaruhi pola interaksi dan pertukaran pengalaman karena individu cenderung membangun hubungan dengan pihak yang memiliki karakteristik serupa (McPherson et al., 2001). Dukungan dari individu dengan pengalaman serupa dapat memberikan ruang untuk saling memahami, sedangkan keberagaman perspektif tetap diperlukan agar pengasuh memiliki lebih banyak alternatif dalam memahami dan menghadapi persoalan pengasuhan.
Sumber daya religius juga menjadi bagian dari cara pengasuh menghadapi tekanan. Beberapa pengasuh menggunakan doa dan pembacaan Alkitab sebagai bagian dari upaya menghadapi persoalan. Spiritualitas dapat menjadi sumber kekuatan bagi pengasuh dalam menghadapi berbagai situasi. Namun, pengalaman emosional tetap membutuhkan ruang untuk dikenali dan diproses. Pada 11,1% pengasuh ditemukan aspek Spiritual Bypassing, yaitu kecenderungan menggunakan pendekatan spiritual dengan mengesampingkan pengalaman psikologis yang sulit untuk diproses secara langsung (Picciotto, Fox, & Netto, 2018). Temuan tersebut tidak menempatkan spiritualitas sebagai sesuatu yang perlu dihindari, tetapi menunjukkan perlunya keseimbangan antara sumber penguatan spiritual dengan kemampuan mengenali emosi, memahami pengalaman diri, dan menghadapi persoalan secara langsung.
Dinamika tersebut juga berkaitan dengan interaksi pengasuh dan anak. Emotional Invalidation ditemukan pada 33,3% pengasuh, terutama ketika respons terhadap perilaku anak belum sepenuhnya mempertimbangkan kondisi emosional yang melatarbelakanginya. Pengasuhan tidak hanya mencakup pemberian aturan dan konsekuensi, tetapi juga membutuhkan kemampuan memahami perasaan dan kebutuhan anak sebelum menentukan respons. Anak tetap membutuhkan batasan yang jelas, sedangkan pengasuh perlu menyampaikan batasan tersebut dengan mempertimbangkan usia, karakter, kondisi emosional, dan situasi anak.
Berbagai kondisi tersebut memperlihatkan bahwa penguatan pengasuh perlu mencakup dua sisi yang saling berkaitan. Pengasuh perlu memiliki kemampuan untuk memahami dan mengelola kondisi dirinya, sekaligus memiliki keterampilan untuk memberikan respons yang sesuai terhadap kebutuhan anak. Tuntutan peran, tekanan sehari-hari, keterbatasan strategi koping, kebutuhan akan dukungan, dan dinamika interaksi dengan anak menjadi dasar bagi penguatan kapasitas pengasuh secara menyeluruh.
Kebutuhan tersebut menjadi dasar pelaksanaan Program TANGGUH: Program Pendampingan bagi Pengasuh Panti Asuhan Kasih Agape untuk Meningkatkan Kesiapan Mental dan Penerapan Pola Asuh yang Efektif. Program Kreativitas Mahasiswa bidang Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-PM) ini dilaksanakan selama tiga bulan, yaitu 26 Juni hingga 20 Agustus 2026, dengan melibatkan sembilan orang pengasuh Panti Asuhan Kasih Agape, Kelurahan Bello, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang.
Program TANGGUH mengintegrasikan penguatan kondisi diri pengasuh dengan keterampilan pengasuhan yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Program ini memadukan pendekatan edukatif, reflektif, dan praktis melalui wawancara awal, penyerahan TANGGUH Kit, Focus Group Discussion (FGD), penguatan self-compassion, edukasi pengasuhan adaptif dan empatik, regulasi emosi, manajemen stres, simulasi (role play) pengasuhan, journaling, serta permainan kerja sama tim. Rangkaian kegiatan tersebut dirancang untuk membantu pengasuh memahami kondisi diri sekaligus mengembangkan cara merespons kebutuhan anak secara lebih tepat.
Tahap awal Program TANGGUH dilakukan melalui wawancara untuk memperoleh gambaran mengenai pengalaman dan kebutuhan pengasuh sebelum pendampingan. Proses tersebut memberikan ruang bagi pengasuh untuk menyampaikan berbagai pengalaman yang berkaitan dengan tanggung jawab, tekanan, hubungan dengan anak, serta kebutuhan pribadi yang mereka hadapi dalam keseharian. TANGGUH Kit kemudian diberikan sebagai perangkat pendukung selama rangkaian kegiatan. Selanjutnya, FGD memberikan kesempatan kepada pengasuh untuk bertukar pengalaman, menyampaikan pandangan, dan membahas situasi pengasuhan yang mereka hadapi.
Penguatan self-compassion menjadi salah satu bagian penting dalam Program TANGGUH. Pengasuh diperkenalkan pada tiga komponen self-compassion, yaitu self-kindness, common humanity, dan mindfulness (Neff, 2003). Materi tersebut membantu pengasuh memahami pentingnya memperlakukan diri secara lebih baik ketika menghadapi kelelahan, kesalahan, maupun situasi yang sulit. Perhatian terhadap kebutuhan diri tidak dimaknai sebagai pengurangan tanggung jawab terhadap anak, tetapi sebagai bagian dari kesiapan pengasuh dalam menjalankan perannya. Program TANGGUH menerapkan meditasi sebagai sarana untuk membantu pengasuh memusatkan perhatian dan menenangkan diri. Selain itu, kegiatan melukis menggunakan paint-by-number digunakan sebagai media untuk melatih fokus dan konsentrasi. Kedua kegiatan tersebut memberikan pengalaman praktis yang dapat membantu pengasuh memberikan perhatian terhadap kondisi diri di tengah rutinitas pengasuhan. Penguatan kondisi diri kemudian dilanjutkan dengan edukasi mengenai pengasuhan adaptif dan empatik. Pengasuh diajak memahami bahwa perilaku anak perlu dilihat bersama dengan usia, karakter, kebutuhan, dan kondisi emosional yang menyertainya. Pemahaman tersebut penting agar pengasuh dapat menentukan respons yang sesuai tanpa mengabaikan batasan yang perlu diberikan kepada anak.
Program TANGGUH memperkuat pemahaman tersebut melalui role play. Pengasuh mempraktikkan berbagai situasi pengasuhan yang dapat terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Melalui role play tersebut, pengasuh berlatih menentukan respons dan konsekuensi dengan mempertimbangkan kondisi anak. Aturan tetap dapat diterapkan secara tegas, tetapi cara penyampaiannya disesuaikan dengan situasi dan kebutuhan anak.
Bapak Dominggus Hariadi Langkameng, S.Kom., selaku Kepala Panti Asuhan Kasih Agape, menyampaikan bahwa program TANGGUH memberikan kesempatan untuk melihat kembali kebutuhan dirinya dalam menjalankan peran sebagai pengasuh. “Selama ini kegiatan di panti lebih banyak berfokus pada bagaimana kita mengurus anak-anak dan memenuhi kebutuhan mereka. Dari kegiatan ini saya juga diingatkan bahwa pengasuh perlu memperhatikan kondisi diri sendiri,” ungkap Bapak Dominggus. Menurutnya, perhatian terhadap kesiapan mental pengasuh menjadi hal baru dan tentunya penting untuk diperkuat agar mampu mendukung mereka dalam menjalankan peran pengasuhan.
Pernyataan tersebut menggambarkan salah satu kebutuhan yang menjadi perhatian dalam Program TANGGUH, yaitu keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan anak dan perhatian terhadap kondisi pengasuh. Pengasuh menjalankan peran yang penting dalam kehidupan anak sehingga kesiapan pengasuh menjadi bagian yang perlu diperhatikan dalam proses pengasuhan. Perhatian terhadap kondisi pengasuh menjadi salah satu langkah dasar untuk mendukung pengasuh dalam menjalankan perannya secara optimal. Pemahaman terhadap kondisi anak juga menjadi bagian dalam penerapan pengasuhan adaptif. Selama program, pengasuh akan diarahkan untuk tidak hanya memperhatikan perilaku yang tampak, tetapi juga mempertimbangkan kondisi yang dapat melatarbelakangi perilaku tersebut. Dengan memahami kebutuhan dan kondisi anak, pengasuh dapat menyesuaikan cara merespons tanpa mengabaikan batasan dan aturan dalam pengasuhan.
Bapak Dominggus menyampaikan, “Kita juga perlu mendengarkan dan memahami apa yang menjadi penyebab dari perilakunya. Jadi tidak hanya melihat dari kesalahannya saja.” Pemahaman tersebut menjadi bagian penting dalam penerapan pengasuhan yang adaptif dan empatik. Pengasuhan yang adaptif dan empatik bukan berarti pengasuh harus mengabaikan aturan atau membiarkan perilaku yang tidak sesuai. Sebaliknya, pengasuh tetap dapat menetapkan batasan dan memberikan konsekuensi dengan mempertimbangkan kondisi emosional serta kebutuhan anak.
Selain penguatan individu, Program TANGGUH memberikan ruang bagi pengasuh untuk membangun pembelajaran bersama. FGD, permainan kerja sama, dan role play memungkinkan pengasuh untuk bertukar pengalaman dan memperoleh perspektif dari sesama pengasuh. Proses tersebut dapat memperluas alternatif dalam menghadapi persoalan pengasuhan sekaligus mendukung terbentuknya komunikasi dan kerja sama di antara pengasuh. Monitoring dan evaluasi dilakukan untuk melihat keterlibatan pengasuh dalam praktik yang diberikan selama pendampingan. Kegiatan role play dievaluasi melalui lembar observasi dengan total persentase sebesar 95,23% yang menandakan para pengasuh sudah mampu menerapkan keterampilan pengasuhan. Sedangkan journaling dievaluasi melalui pengisian lembar monitoring dan evaluasi yang mendapat persentase akhir sebesar 83,25%, sehingga dapat diamati bahwa para pengasuh mampu memanfaatkan journaling sebagai media refleksi diri.
Pernyataan tersebut menggambarkan salah satu kebutuhan yang menjadi perhatian dalam Program TANGGUH, yaitu keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan anak dan perhatian terhadap kondisi pengasuh. Pengasuh menjalankan peran yang penting dalam kehidupan anak sehingga kesiapan pengasuh menjadi bagian yang perlu diperhatikan dalam proses pengasuhan. Perhatian terhadap kondisi pengasuh menjadi salah satu langkah dasar untuk mendukung pengasuh dalam menjalankan perannya secara optimal.
Pemahaman terhadap kondisi anak juga menjadi bagian dalam penerapan pengasuhan adaptif. Selama program, pengasuh akan diarahkan untuk tidak hanya memperhatikan perilaku yang tampak, tetapi juga mempertimbangkan kondisi yang dapat melatarbelakangi perilaku tersebut. Dengan memahami kebutuhan dan kondisi anak, pengasuh dapat menyesuaikan cara merespons tanpa mengabaikan batasan dan aturan dalam pengasuhan.
Bapak Dominggus menyampaikan, “Kita juga perlu mendengarkan dan memahami apa yang menjadi penyebab dari perilakunya. Jadi tidak hanya melihat dari kesalahannya saja.” Pemahaman tersebut menjadi bagian penting dalam penerapan pengasuhan yang adaptif dan empatik. Pengasuhan yang adaptif dan empatik bukan berarti pengasuh harus mengabaikan aturan atau membiarkan perilaku yang tidak sesuai. Sebaliknya, pengasuh tetap dapat menetapkan batasan dan memberikan konsekuensi dengan mempertimbangkan kondisi emosional serta kebutuhan anak.
Selain penguatan individu, Program TANGGUH memberikan ruang bagi pengasuh untuk membangun pembelajaran bersama. FGD, permainan kerja sama, dan role play memungkinkan pengasuh untuk bertukar pengalaman dan memperoleh perspektif dari sesama pengasuh. Proses tersebut dapat memperluas alternatif dalam menghadapi persoalan pengasuhan sekaligus mendukung terbentuknya komunikasi dan kerja sama di antara pengasuh. Monitoring dan evaluasi dilakukan untuk melihat keterlibatan pengasuh dalam praktik yang diberikan selama pendampingan. Kegiatan role play dievaluasi melalui lembar observasi dengan total persentase sebesar 95,23% yang menandakan para pengasuh sudah mampu menerapkan keterampilan pengasuhan. Sedangkan journaling dievaluasi melalui pengisian lembar monitoring dan evaluasi yang mendapat persentase akhir sebesar 83,25%, sehingga dapat diamati bahwa para pengasuh mampu memanfaatkan journaling sebagai media refleksi diri.
Wawancara akhir dilakukan untuk memperoleh gambaran mengenai pengalaman pengasuh setelah mengikuti rangkaian Program TANGGUH. Pengasuh menyampaikan bahwa mereka mulai lebih memperhatikan kondisi diri, mengenali emosi, memberikan waktu untuk menenangkan diri sebelum merespons, serta mempertimbangkan kondisi anak sebelum memberikan teguran. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pendampingan memberikan ruang bagi pengasuh untuk menghubungkan pemahaman mengenai kondisi diri dengan penerapan respons pengasuhan dalam kehidupan sehari-hari.
Perubahan tersebut menjadi bagian dari proses penguatan kapasitas pengasuh yang dibangun melalui Program TANGGUH. Pengasuh tidak hanya memperoleh pemahaman mengenai pengelolaan diri, tetapi juga memperoleh kesempatan untuk mempraktikkan keterampilan tersebut dalam situasi pengasuhan. Integrasi antara pengenalan diri, regulasi emosi, pengelolaan stres, dan pengasuhan adaptif menjadi bagian penting dalam mendukung penerapan keterampilan secara lebih utuh.
Keberlanjutan Program TANGGUH dilakukan dengan penerapan kembali secara mandiri hal-hal yang telah dipelajari selama proses pendampingan dalam keseharian para pengasuh. Setelah mendapatkan pemahaman mengenai pentingnya mengenali dan mengelola kondisi diri, pengasuh dapat melanjutkan praktik sederhana seperti journaling dan meditasi secara mandiri sesuai dengan kondisi dan rutinitas masing-masing. Kebiasaan tersebut diharapkan dapat membantu pengasuh menjaga kesiapan diri, yang kemudian mendukung penerapan respons pengasuhan yang lebih adaptif dan empatik dalam menghadapi berbagai situasi bersama anak. Pengetahuan mengenai pola asuh yang sudah didapat selama program, tentunya dapat diterapkan dalam interaksi sehari-hari dengan menyesuaikan respons terhadap kebutuhan dan kondisi anak, sehingga pengasuh mampu menghadapi berbagai dinamika pengasuhan dengan lebih adaptif dan empatik.
Program TANGGUH pada akhirnya memberikan penguatan pada dua aspek yang saling berkaitan, yaitu kesiapan pengasuh dan kualitas respons pengasuhan. Pengasuh membutuhkan kemampuan untuk mengenali kondisi diri, mengelola emosi dan tekanan, serta memperluas perspektif ketika menghadapi persoalan. Kemampuan tersebut kemudian dapat mendukung pengasuh dalam memberikan respons yang lebih sesuai dengan kebutuhan dan kondisi emosional anak. Melalui Program TANGGUH, pengasuh Panti Asuhan Kasih Agape memperoleh ruang untuk memahami kondisi diri, mengembangkan keterampilan pengelolaan emosi dan stres, bertukar pengalaman, serta mempraktikkan pengasuhan yang adaptif dan empatik. Penguatan kapasitas tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas pengasuhan sekaligus mendukung terciptanya lingkungan yang lebih responsif terhadap kebutuhan anak.
Program TANGGUH hadir sebagai upaya pendampingan untuk memperkuat kesiapan mental dan keterampilan pengasuh dalam menghadapi dinamika pengasuhan. Rangkaian kegiatan yang diberikan tidak hanya berfokus pada pemahaman, tetapi juga mendorong pengasuh untuk mempraktikkan pengelolaan diri dan respons pengasuhan melalui journaling, relaksasi, serta kegiatan role play pengasuhan. Dengan adanya buku pedoman, video pembelajaran, leaflet panduan, segala bentuk pemahaman dan keterampilan dapat dilanjutkan secara mandiri, TANGGUH diarahkan agar pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dapat terus diterapkan dalam keseharian pengasuh dan mendukung terciptanya lingkungan asuh yang lebih adaptif dan empatik.
Referensi :
El Koumi, M.A., Ali, Y.F., El Banna, E.A., Youssef, U.M., Raya, Y.M. and Ismail, A.A. (2012) ‘Psychiatric morbidity among a sample of orphanage children in Cairo’, International Journal of Pediatrics, 2012, Article ID 141854, pp. 1–7. Available at: https://doi.org/10.1155/2012/141854 (Diakses: 31 Agustus 2026).
Kusumawardhani, Y. and Wijayanti, D.Y. (2012) ‘Hubungan antara pola asuh dengan kecemasan anak panti asuhan’, Prosiding Seminar Nasional & Internasional, 1(1), pp. 1–8. Available at: https://jurnal.unimus.ac.id/index.php/psn12012010/article/view/341(Diakses: 1 September 2026).
Rocha, I.C.N. and Arcinas, M.M. (2020) ‘Quality of life of Filipino caregivers of children in need of special protection: Correlations with their role overload and role distress’, Journal of Caring Sciences, 9(4), pp. 173–181. Available at: https://doi.org/10.34172/jcs.2020.027 (Diakses: 31 Agustus 2026).
McPherson, M., Smith-Lovin, L. and Cook, J.M. (2001) ‘Birds of a feather: Homophily in social networks’, Annual Review of Sociology, 27, pp. 415–444. Available at: https://doi.org/10.1146/annurev.soc.27.1.415 (Diakses: 31 Agustus 2026).
Picciotto, G., Fox, J. and Neto, F. (2018) ‘A phenomenology of spiritual bypass: Causes, consequences, and implications’, Journal of Spirituality in Mental Health, pp. 1–22. Available at: https://doi.org/10.1080/19349637.2017.141775 (Diakses: 31 Agustus 2026).
Neff, K.D. (2003) ‘Self-compassion: An alternative conceptualization of a healthy attitude toward oneself’, Self and Identity, 2(2), pp. 85–101. Available at: https://doi.org/10.1080/15298860309032 (Diakses: 31 Agustus 2026).
Disusun Oleh:
Nama : Veren Valeriana Dethan
Asal Daerah : Nusa Tenggara Timur
Asal Universitas : Universitas Nusa Cendana
Awardee : Beasiswa DJITU 2024