Tahukah SahabatKK, Programmer Pertama di Dunia Seorang Perempuan?
Tahukah SahabatKK, Programmer Pertama di Dunia Seorang Perempuan?
#KARYASAHABATKK Oleh
Nurlaili Hidayati, Awardee BESTARI 2024 Asal Nusa Tenggara Barat
Satu abad sebelum komputer elektronik pertama dibangun, seorang perempuan sudah menulis instruksi untuk mesin yang bahkan belum pernah dibuat.
Sumber gambar: Wikimedia Commons
Ketika mendengar kata programmer, bayangan yang muncul sering kali sosok laki-laki di depan layar penuh kode, lengkap dengan deretan monitor. Padahal, lebih dari seratus tahun sebelum komputer modern ada, bahkan sebelum listrik mengalir ke rumah-rumah, seorang perempuan sudah menulis apa yang kini dianggap sebagai program komputer pertama di dunia.
Perempuan itu bernama Ada Lovelace, putri satu-satunya penyair Lord Byron. Pada 1843, ia menerjemahkan artikel tentang Analytical Engine, mesin hitung rancangan Charles Babbage, lalu menambahkan catatan yang disusunnya bersama Babbage, dengan panjang sekitar tiga kali artikel aslinya. Catatan itu memuat rangkaian langkah perhitungan untuk menghasilkan bilangan Bernoulli, yang oleh banyak sejarawan dianggap sebagai algoritma pertama yang dirancang untuk dijalankan mesin.
Lovelace juga membayangkan sesuatu yang kala itu terdengar mustahil, yaitu mesin yang tidak hanya menghitung angka, tetapi juga mengolah simbol, bahkan musik, jauh sebelum konsep itu punya nama. Penelusuran surat-surat sezamannya menunjukkan bahwa ia diakui sebagai penulis utama catatan tersebut, meski sempat diperdebatkan seberapa besar peran Babbage di dalamnya. Analytical Engine sendiri tidak pernah selesai dibangun pada masa hidupnya, sehingga programnya hanya ada di atas kertas, menunggu lebih dari seabad sebelum mesin yang sanggup menjalankannya benar-benar ada.
Lovelace bukan satu-satunya.
Sebelum mesin hitung elektronik dikenal luas, kata "computer" justru merujuk pada manusia yang mengerjakan hitungan rumit, dan sebagian besar pekerjaan itu dipegang perempuan. Mereka mengerjakan perhitungan ilmiah dan teknis yang rumit secara manual, lembar demi lembar, jauh sebelum mesin mengambil alih peran itu. Ketekunan semacam inilah yang kelak menjadi fondasi bagi lahirnya ilmu komputer sebagai disiplin tersendiri. Ironisnya, begitu komputer elektronik lahir dan profesi programmer makin bergengsi, citranya justru bergeser menjadi maskulin, sehingga kontribusi perintis seperti Lovelace lama tidak diakui.
SahabatKK, sejarah ini mengingatkan bahwa dunia teknologi tidak pernah dimiliki satu gender saja sejak awal. Fondasinya dibangun jauh sebelum mesin itu sendiri ada, oleh seseorang yang berani membayangkan hal yang belum terwujud dan belum punya contoh sebelumnya. Jadi, kalau SahabatKK perempuan yang tertarik pada coding, data, atau teknologi, SahabatKK bukan pendatang baru di dunia yang asalnya bukan milik SahabatKK. SahabatKK sedang melanjutkan tradisi yang sudah dimulai lebih dari 180 tahun lalu, jauh sebelum kata "programmer" sendiri punya definisi. Yuk, mulai belajar, berkarya, dan ambil tempat SahabatKK!
Referensi
Ensmenger, N. (2015). "Beards, sandals, and other signs of rugged individualism": Masculine culture within the computing professions. Osiris, 30(1), 38–65.
Fuegi, J., & Francis, J. (2003). Lovelace & Babbage and the creation of the 1843 "notes". IEEE Annals of the History of Computing, 25(4), 16–26.
Light, J. S. (1999). When computers were women. Technology and Culture, 40(3), 455–483.
Menabrea, L. F., & Lovelace, A. A. (1843). Sketch of the Analytical Engine invented by Charles Babbage, Esq. Scientific Memoirs, 3, 666–731.