#KARYASAHABATKK Oleh
Nurlaili Hidayati, Awardee BESTARI 2024 Asal Nusa Tenggara Barat
Pernah nggak sih SahabatKK ngerasa jadi satu-satunya orang yang paham kenapa “titik koma yang hilang” bisa bikin drama semalaman?
Kalau iya, selamat datang di circle-nya anak Informatika!
Sumber gambar: Canva
Mahasiswa Informatika punya cerita-cerita khas yang cuma dimengerti sesama programmer, dan ternyata drama-drama ini bukan cuma curhatan semata, tapi sudah dibuktikan lewat riset akademik. Yuk, kita bahas lima di antaranya:
Ngoding semalaman, eh bug-nya ternyata cuma titik koma
Bayangin sudah berjam-jam scroll ke atas-bawah mencari di mana letak errornya, eh ternyata cuma satu tanda baca kecil yang terlewat. Kedengarannya sepele, tapi ini pengalaman yang dialami hampir semua mahasiswa pemula. Berdasarkan penelitian terhadap mahasiswa tahun pertama, sebanyak 90% responden setuju bahwa mereka sering mengalami kesalahan saat menulis dan men-debug kode, ini bukti bahwa mahasiswa pemula masih menghadapi kesulitan teknis dan kurang percaya diri dalam mengatasi masalah pada programnya.
Lupa fungsi simbol dan operator
Masih satu keluarga sama drama titik koma tadi. Studi yang sama mencatat bahwa lebih dari 80% mahasiswa mengaku sering lupa fungsi simbol atau operator dalam pemrograman, yang menunjukkan bahwa detail sintaksis memang menjadi tantangan tersendiri, sekalipun penjelasan dosen sudah baik. Rasanya seperti deja vu, materinya sudah pernah dipelajari, tapi pas praktik lupa lagi.
Bisa hafal sintaks, tapi bingung menyusun logikanya
Penelitian lain menemukan bahwa sebagian besar mahasiswa mampu menghafal sintaks bahasa pemrograman, tapi kesulitan menyusun algoritma sebagai dasar penyelesaian kasus, sehingga mahasiswa cenderung langsung menulis kode program tanpa menyusun langkah-langkah dan akhirnya banyak salah logika. Ini jadi pengingat kalau ngoding itu bukan cuma soal hafal sintaks, tapi soal cara berpikir sistematis.
Kerja kelompok yang timpang
Riset yang sama juga menyoroti fenomena di mana hanya satu atau dua mahasiswa yang bertanggung jawab terhadap proses penulisan kode program, sedangkan anggota lainnya lebih banyak berperan dalam penyusunan laporan, desain presentasi, maupun dokumentasi proyek. Kalau SahabatKK pernah jadi “si penanggung jawab coding” di tim yang harus mencari titik koma hilang sendirian sementara yang lain sibuk desain slide, SahabatKK tidak sendirian.
Frustasi ketika program yang sudah dikerjakan berjam-jam ternyata tetap error
Studi mencatat bahwa frustrasi merupakan pengalaman umum di kalangan mahasiswa informatika ketika kode mereka tidak berjalan dengan benar, dengan 65,4% responden setuju atau sangat setuju dengan perasaan ini. Jadi, kalau SahabatKK pernah ingin membanting laptop gara-gara error yang tidak ketemu solusinya, ya, balik lagi, mungkin penyebabnya cuma satu titik koma yang terlewat.
Kelima drama ini mungkin terdengar berat kalau dijalani sendirian, tapi jadi pengalaman yang menyatukan ketika diceritakan bersama sesama anak IT. Yang penting, tantangan-tantangan ini justru jadi proses yang membentuk kemampuan problem solving dan ketekunan yang jadi bekal berharga ke depannya.
Kalau SahabatKK juga punya drama serupa, share pengalaman SahabatKK, siapa tahu banyak yang senasib! Yuk, pantau terus yayasankhouwkalbe.org dan sosial media kami di Instagram, TikTok, Facebook, YouTube, dan LinkedIn @yayasankhouwkalbe untuk mendapatkan update dan informasi inspiratif seputar dunia teknologi dan pengembangan diri lainnya.
Referensi
Diasri, N. R., & Asri, J. S. (2025). Analisis kesulitan mahasiswa tingkat awal dalam mempelajari algoritma dan pemrograman di era digital. JIK: Jurnal Ilmu Komputer, 10(2), 62–67.
Prayudi, A., Supriyaddin, Imansyah, M. N., Burhanuddin, & Mahdin. (2026). Keterbatasan PjBL konvensional dalam kelas pemrograman yang padat. Indonesian Journal of Multidisciplinary on Social and Technology, 4(3), 1664–1670.